Info Unik dan Menarik Terbaru

Wisata Laut Wakatobi

Advertisement
Wisata Laut Wakatobi - Setelah lepas dari daratan Pulau Buton, samar-samar mulai terlihat daratan dan laut Pulau Kapota menyusul kemudian Pulau Wangi-wangi. Pulau terbesar dari gugusan empat pulau yang membentuk nama Wakatobi ini menjadi pintu masuk utama bagi pengunjung yang datang untuk wisata. Tambahkan Kaledupa, Tomia, dan Binongko jadilah Wakatobi, sumbangan dua kata awal tiap nama pulau. Dahulu lebih dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi.
taman nasional wakatobi
Wisata Laut Wakatobi
Tiga persen wilayah daratan Wakatobi dihuni oleh 9 masyarakat adat antara lain Wanci, Mandati, Liya, Kapota, Kaledupa, Waha, Tongano, Timu, dan Mbeda-beda. Selain itu juga terdapat masyarakat pendatang yaitu Bajo dan Cia-cia dari etnis Buton. Kehidupan mereka sangat tergantung pada kekayaan lautan sehingga pengembangan hasil laut yang lestari dan pariwisata berkelanjutan diutamakan.

Dari atas dapat disaksikan kolam-kolam berwarna biru di sekitaran Wanci. Pada saat surut kolam itu tidak terpengaruh karena terhalangi pasir atau batu karang. Ekosistem yang sirkulasi airnya cenderung diam ini disebut laguna (lagoon).

Belum banyak yang menyelami wisata blue hole ini yang susunan karangnya berbeda dengan karang di tepi pulau. Responnya terhadap fenomena alam seperti pemutihan karang (coral bleaching) cenderung lebih cepat, karena ketika terjadi kenaikan suhu air laut, suhu air dalam laguna kecil cenderung lebih tinggi.

Kawasan konservasi seluas 1.390.000 ha ini memiliki kekayaan 750 jenis terumbu karang dari 850 jenis di dunia. Puluhan dive spot bisa dinikmati penyelam di area yang termasuk kawasan segitiga karang dunia ini. Apabila pengunjung belum bisa menggunakan peralatan scuba (self contained underwater breathing apparatus) masih dapat menyaksikan warna-warni kehidupan laut dengan snorkeling. Alat yang dibutuhkan hanyalah masker, snorkel, dan fin (kaki katak). Pada kedalaman laut 2-5  dapat melihat ikan-ikan nan cantik meliuk di antara karang laut.
Laut Wakatobi
Karena ketergantungannya dengan alam, muncullah kearifan dalam pemanfaatannya. Suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut ulung mengenal istilah  “Pamali” untuk hal-hal yang dilarang, semacam sistem ‘tabu’. Misalnya dilarang membuang sampah seperti kulit jeruk nipis, sisa bumbu dan sampah lainnya ke laut. Ikan yang masih kecil juga dilarang ditangkap sebelum mencapai ukuran yang layak dikonsumsi. Ada ketakutan yang dirasakan bila mereka melanggarnya karena akan mendapatkan “bala” atau nasib buruk.  Misalnya badai, gelombang laut besar, dan hujan deras atau bahkan mereka tidak akan mendapatkan ikan. Pulang membawa tangan kosong.

Kearifan lokal yang tumbuh di suku Bajo ini sejalan dengan upaya konservasi yang melindungi kekayaan laut di kawasan yang 97 persennya berupa lautan. Program konservasi yang telah diterapkan sejak penujukkan Wakatobi menjadi taman nasional tahun 1996 kemudian dilirik oleh UNESCO melalui program Man and Biosfer. Program ini memberi perhatian pada ekosistem darat dan laut yang menerapkan kerjasama konservasi keanekaragaman hayati dengan pengembangan sosial ekonomi serta memelihara nilai budaya untuk wisata.


Untuk menghemat biaya saat berwisata di laut wakatobi tidak ada salahnya jika membaca TIPS HEMAT BERWISATA

Wisata laut Wakatobi bisa menjadi perhatian 165 negara anggota jaringan cagar biosfer dunia. Menjadi cagar biosfer yang ke delapan di Indonesia membuktikan pengelolaan kawasan dengan prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan serasi.
Tag : Wisata
Back To Top